Innalillahi, Artis Cilik Ini Meninggal karena Diabetes, Ternyata Salah Satu Gejalanya Bisa Terlihat di Leher, Mohon Ibu-ibu Waspada!

Aktor cilik yang berperan dalam film horor Danur, baru-baru ini dikabarkan meninggal dunia. Kabar ini pun sempat membuat beberapa artis seperti Prilly Latuconsina juga ikut berbelasungkawa.

Keduanya memang sempat beradu peran dalam film Danur. Meninggalnya aktor Matthew White ini tentu saja cukup mengejutkan mengingat ia masih berusia 11 tahun. Bahkan ia baru saja meniti karier di dunia hiburan.

Matthew dikabarkan menderita penyakit diabates melitus, sebelum meninggal dunia. Ya, diabetes melitus mungkin terdengar mustahil menyerang anak-anak. Namun faktanya, diabates melitus yang menyerang anak, juga bisa membahayakan nyawa.

Kerap tidak disadari gejalanya, rupanya penyakit diabates pada anak ini bisa dikenali salah satunya dari leher.

Gejala Diabates Melitus pada Anak

Para orangtua sebaiknya mulai waspada. Belajar dari meninggalnya aktor Matthew White, rupanya gejala diabates pada anak ini memang sulit dikenali. Namun, beberapa gejala fisik bisa menjadi salah satu kewaspadaan bagi Anda.

Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai terkait diabetes melitus pada anak-anak dan remaja. Salah satunya terjadi di leher atau area lipatan tubuh.

Jika ada area lipatan seperti ketiak dan leher yang menggelap tidak wajar atau tidak seperti kotor biasa, Anda harus waspada, bisa jadi ini gejala diabates melitus pada anak.

Selain gejala di leher, beebrapa gejala pada anak yang menderita diabates antara lain:

  • Banyak makan atau merasakan lapar terus menerus meski baru selesai makan
  • Banyak minum atau merasa haus terus-menerus karena tubuh tidak mampu produksi Banyak kencing dan mengompol
  • Penurunan berat badan yang drastis dalam 2-6 minggu sebelum terdiagnosis
  • Mudah merasa lelah atau kelelahan
  • Mengalami gangguan perilaku dan perubahan emosi menjadi cepat marah dan murung
  • Tanda kedaruratan lainnya yang perlu diwaspadai, antara lain sesak napas, dehidrasi, syok, dan napas berbau keton.

Jika anak-anak Anda sudah memiliki beberapa gejala diabetes di atas, maka sebaiknya segeralah memeriksakan diri ke dokter untuk diminta mengukur kadar gula dalam darahnya.

Untuk mencapai kontrol metabolik yang optimal mendukung anak-anak dengan diabetes, dibutuhkan penanganan yang menyeluruh baik oleh keluarga, ahli endokrinologi anak atau dokter anak, ahli gizi, ahli psikiatri, psikologi anak, pekerja sosial dan edukator.

Lalu apa sebenarnya diabates melitus itu?

Diabetes Melitus itu Penyakit Apa?

Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang timbul akibat peningkatan kadar gula darah di atas normal yang berlangsung secara kronis.

Hal ini disebabkan adanya gangguan pada hormon insulin yang dihasilkan kelenjar pankreas. Insulin berfungsi mengatur penggunaan glukosa oleh otot, lemak atau sel-sel lain di tubuh.

Apabila produksi insulin berkurang, maka akan menyebabkan tingginya kadar gula dalam darah serta gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein.

Untuk diketahui, Diabetes Melitus (DM) atau penyakit kencing manis pada anak ini dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu Diabetes Melitus tipe 1 dan Diabetes Melitus tipe 2.

DM tipe-1 disebabkan oleh pankreas yang tidak memproduksi cukup insulin.

Penyebab DM tipe-1 adalah interaksi dari banyak faktor yakni, kecenderungan genetik, faktor lingkungan, sistem imun, dan sel Beta pankreas yang perannya masing-masing terhadap proses DM tipe-1 belum diketahui.

Sedangkan, DM tipe-2 disebabkan oleh gangguan kerja insulin yang juga dapat disertai kerusakan pada sel pankreas.

Berbeda dengan DM tipe-1, DM tipe-2 sangat erat kaitannya dengan gaya hidup tidak sehat seperti beran badan berlebih, obesitas, kurang aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemia, dan diet tidak sehat atau tidak seimbang, serta merokok.

Jumlah kasus baru DM tipe-1 dan tipe-2 berbeda antar populasi dengan distribusi usia dan etnik yang bervariasi.

“Anak-anak paling banyak mengidap diabetes (DM) tipe-1, tapi ada pula yang mengidap DM tipe-2 langsung,” ujar anggota Dewan Penasehat Physician International Society for Pedriatric and Adolescents Diabetics (ISPAD), Prof DrR Dr Aman B Pulungan, FAAP, FRCP(Hon).

Meskipun, kasus DM tipe-1 merupakan kasus yang paling banyak dijumpai pada anak-anak dan remaja, tetapi ada pula kecenderungan peningkatan kasus DM tipe-2 pada anak dengan faktor risiko obesitas, genetik dan etnik, serta riwata DM tipe-2 di keluarga.

“Nah, apalagi dengan kondisi pandemi sekarang ini, anak-anak lebih banyak makan cepat saji, tinggal pesan sambil duduk di hape, jarang beraktivitas fisik atau olahraga, risiko mereka (anak-anak dan remaja) mengalami obesitas dan diabetes juga. Ini yang banyak tidak disadari,” kata dia.

Oleh karena itu, Aman menegaskan bahwa hal ini harus menjadi perhatian, karena diabetes sangat mempengaruhi kehidupan anak hingga masa yang akan datang.

Sebab, diabetes merupakan salah satu dari jenis penyakit tidak menular (PTM) yang tidak dapat disembuhkan.

“Diabetes ini tidak bisa diobati, jadi anak-anak yang mendapati diabetes harus suntik insulin dan menjaga pola makan, serta gaya hidupnya seumur hidup,” jelasnya.

Namun, dengan kontrol metabolik yang baik, anak dapat tumbuh dan berkembang selayaknya anak sehat lainnya.

Kontrol metabolik yang baik tersebut yaitu mengupayakan kadar gula darah dalam batas normal atau mendekati nilai normal tanpa menyebabkan anak malah kekurangan glukosa dalam darah.

Pengelolaan dilakukan dengan pemberian tatalaksana yang sesuai baik insulin maupun obat-obatan, pengaturan makan, olahraga, dan edukasi, serta pemantauan gula darah secara mandiri (home monitoring).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.