Ternyata Bukan Cabai Atau Jambu Biji, Kebiasaan Gaya Hidup Sepele Ini Jadi Penyebab Radang Usus Buntu, Wajib Tahu Sebelum Nyesel Belakangan

Penyakit usus buntu adalah peradangan yang terjadi pada usus buntu atau apendiks. Saat menderita radang usus buntu, penderita dapat merasa nyeri di perut kanan bagian bawah.

Radang usus buntu dapat terjadi pada semua usia, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Penyebab penyakit usus buntu sebenarnya belum dapat dipastikan.

Berbagai mitos yang menyebabkan bahwa makanan tertentu, seperti biji cabai, dapat memicu terjadinya usus buntu juga belum terbukti kebenarannya.

Namun, kebiasaan gaya hidup yang salah ternyata bisa memicu penyakit ini. Apa saja penyebabanya? Simak ulasannya berikut ini.

Penyebab Penyakit Radang Usus Buntu

Terlalu banyak makan pedas sering disebut dapat menyebabkan radang usus buntu karena biji cabainya. Begitu pula dengan makan jambu biji.

Namun, kebanyakan kasus radang usus buntu yang ditemui ternyata bukan karena sering makan cabai maupun jambu biji.

Dokter spesialis gizi klinik Inge Permadhi mengungkapkan, radang usus buntu justru bisa dipicu karena kurang minum atau tubuh kekurangan cairan.

“Penyebab usus buntu kalau diperiksa ternyata bukan ada biji cabai yang masuk, tapi sering karena ada feses, kotoran yang hitam, yang kering, masuk ke usus buntu,” terang Inge di Jakarta, Selasa (22/6/2016).

Inge menjelaskan, meski sudah banyak makan serat, tetapi jika kurang minum, tetap tak bisa mendorong sisa makanan ke luar dari tubuh.

Di dalam usus, serat berbentuk menggumpal sehingga butuh cairan untuk mengembang kemudian memicu buang air besar.

Konsumsi banyak serat tanpa asupan cairan yang cukup justru bisa menyebabkan kotoran menumpuk. Akhirnya terjadinya sembelit atau buang air besar yang tidak lancar.

Sisa kotoran yang tidak terbuang dari tubuh pun bisa terjebak di usus buntu yang lama-kelamaan bisa mengeras dan menghalangi akses ke usus buntu.

Hal inilah yang bisa memicu peradangan di usus buntu. Inge pun mengingatkan pentingnya memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Dalam sehari, setidaknya konsumsi 8 gelas air putih untuk menjaga hidrasi tubuh.

Cara Mengobati Usus buntu

Melansir WebMD, radang usus buntu hampir selalu diperlakukan sebagai keadaan darurat. Operasi pembedahan untuk mengangkat usus buntu adalah pengobatan standar untuk hampir semua kasus usus buntu.

Umumnya, jika dokter mencurigai seseorang menderita radang usus buntu, mereka akan segera menghilangkannya untuk menghindari pecah.

Jika pasien memiliki abses, mereka mungkin mendapatkan dua prosedur, yakni untuk mengeringkan abses nanah dan cairan, dan yang berikutnya untuk mengeluarkan apendiks.

Tetapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengobati radang usus buntu akut dengan antibiotik dapat membantu menghindari operasi.

Komplikasi Usus Buntu

Jika tidak diobati, usus buntu yang meradang dapat pecah hingga menumpahkan bakteri dan puing-puing ke dalam rongga perut, bagian tengah tubuh.

Di sana, terdapat hati, lambung, dan usus. Kondisi ini dapat menyebabkan peritonitis, yakni peradangan serius pada lapisan rongga perut (peritoneum).

Itu bisa mematikan kecuali diobati dengan antibiotik yang kuat. Kadang-kadang, abses terbentuk di luar bagian yang meradang.

Jaringan parut kemudian “menutup dinding” usus buntu dari sisa organ. Ini membuat infeksi tidak menyebar.

Tetapi usus buntu yang abses dapat merobek dan menyebabkan peritonitis.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.